Aliif Laam Miim. Adakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan kami telah beriman, padahal mereka tidak diuji. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Lantaran itu Allah mesti mengetahui orang-orang yang benar dan orang – orang yang berdusta ( Al Ankabut : 1 – 3 )
Jalan da’wah tidak ditaburi bunga – bunga harum, tetapi merupakan jalan sukar dan panjang. Sebab, antara yang haq dan bathil ada pertentangan nyata. Dakwah memerlukan kesabaran dan ketekunan memikul beban berat. Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera, tanpa putus asa dan putus harapan. Yang diperlukan ialah usaha dan kerja yang terus menerus dan hasilnya terserah kepada Allah, sesuai dengan waktu yang dikehendaki – Nya. Mungkin juru dakwah tidak akan melihat hasil dakwah serta buahnya di dalam hidup di dunia ini. Kita hanya disuruh beramal dan berusaha, tidak disuruh melihat hasil dan buahnya.
Sebaliknya para da’i di jalan Allah akan menemui berbagai gangguan dan penyiksaan dari golongan thaghut dan musuh-musuh Allah yang akan menghapus mereka, memusnahkan dakwah mereka, atau menghalangi mereka dari jalan – Nya. Itu adalah persoalan biasa yang telah berulang kali terjadi di zaman silam, dan akan terus berulang di zaman ini. Semuanya didorong oleh rasa ketakutan angkatan thaghut. Mereka takut kekuasaannya yang berdiri diatas kebathilan akan musnah apabila yang haq bangun dan tegak untuk menghapus kebathilan.
Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang bathil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap ( Al Anbiya : 18 )
Dari seorang muslim yang benar kita menghendaki mereka menjadi muslim yang selamat aqidahnya, benar ibadahnya, teguh akhlaqnya, pikirannya terdidik, badannya kuat, memiliki uasaha yang mampu berdikari, ikhlas berqurban untuk diri sendiri dan orang lain, sanggup memerangi hawa nafsu, disiplin dalam segala urusannya dan memiliki nilai-nilai asasi bagi seorang da’i dan pendukung dakwah.
Jalan dakwah yang merupakan segala – galanya bagi seorang aktivis dakwah adalah jalan yang lebih membutuhkan bekalan yang dapat menghindarkan aktivis dari penyimpangan, kegagalan atau menghambat perjalanan. Sebab hal itu mengakibatkan kerugian yang nyata, hilangnya kebaikan yang banyak, dan terhalang untuk mendapatkan keuntungan yang besar.
Bekalan yang paling pertama dan utama adalah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Dialah sebaik-baik bekal. Kemudian ditambah bekal-bekal penunjang antara lain, sahabat-sahabat yang saleh, pembimbing yang menuntun, memberikan pengarahan, pengalaman dan lainnya, sehingga ia menemukan kekuatan tekad dan terhindar dari penyimpangan serta kekeliruan.
Ketika kita menapaki jalan dakwah, yang paling kita butuhkan adalah perasaan bahwa Allah menyertai setiap langkah, gerak dan diam kita, bahkan di setiap saat Ia selalu bersama kita. Dan siapa yang bersama Allah, tiada akan merasa kekurangan sesuatu apapun. Sedangkan orang yang ditelantarkan oleh Allah, maka tidak akan menemukan kecuali kesia – siaan dan kesesatan. Kebersamaan seperti itu adalah nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada orang-orang beriman, bertaqwa, dan berbuat ihsan.
Bersabarlah ( hai Muhammad ) dan tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap ( kekafiran ) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan ( An Nahl : 127 – 128 )
Agar kita yang berada di jalan dakwah ini mampu memberikan pengaruh, merubah realitas tang bathil dan menegakkan kebenaran, maka kita harus merasa mempunyai izzah, kekuatan dan ketinggian kedudukan serta terbebas dari kelemahan, kehinaan, dan rendah diri. Dan hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan bekal keimanan.
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah ( pula ) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang – orang yang paling tinggi ( derajatnya ) , jika kamu orang-orang yang beriman ( Al Imran : 139 )
Padahal kekuatan ( izzah ) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul – Nya, dan bagi orang – orang yang beriman, tetapi orang – orang munafik itu tiada mengetahui ( Al Munafiqun : 8 )
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah ( Al Imran : 10 )
Disarikan dari
FIQH DAKWAH
Syaikh Mushthafa Masyhur
Ahlan wa sahlan
selamat datang di Blog Permais FE UNPAD. Sebuah media komunikasi dan pusat informasi dari Permais FE UNPAD. Semoga bisa mempererat ukhuwah dan lebih mendekatkan permais dengan kita semua. untuk permais tercinta, yang kian tercitra..








