May 20, 2008...5:20 pm

Menanti inovasi dakwah PERMAIS 08-09..

Jump to Comments

Dakwah, mestilah menjadi representasi keagungan, keindahan, keluasan, kemudahan, jalan, inklusifisme, serta segala kebaikan yang semestinya melekat pada kata Islam. Mestilah merupakan oase keteduhan yang menyelamatkan, sebagaimana hakikat dakwah sebagai gerakan penyeelamatan. Mestilah menjadi icon pemersatu segenap potensi kebaikan, yang melekat pada diri pribadi, maupun lembaga dakwah, sehingga Islam seperti karakter yang dimilikinya, menjadi rahmatan lil alamin, menjadi guru bâagi seluruh alam. Insya Allah.

Perjalanan dakwah pada Kepengurusan Permais FE Unpad periode 2007-2008 kini telah selesai, dengan berbagai lika-liku dan dinamika organisasi yang terjadi. Kita ucapkan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada Bayu beserta seluruh jajarannya atas segala ikhtiar dan segala pengorbanan yang telah dilakukan selama kepengurusan permais 2008-2009, juga atas kebersamaan tim yang telah ditunjukkan, serta kesabaran dan keistiqomahan para pengurus dalam melaksanakan segala agenda2 dakwah dalam tubuh permais. Estafeta dakwah, tentunya menjadi sebuah sunatullah yang akan terus berjalan. Dan Allah SWT, melalui proses mubes permais baru-baru ini ,telah memilih akh supriatna, yang kini sedang mempersiapkan kepengurusan baru di tubuh permais, untuk meneruskan tongkat estafeta dakwah yang telah dilakukan oleh pengurus-pengurus sebelumnya. Tentu saja terpilihnya supriatna sebagai ketua permais baru juga diiringi oleh munculnya harapan-harapan baru serta kenginan-keinginan baru dari semua pihak terhadap permais 2008-2009, sehingga menjadi lebih baik, lebih maju dan lebih profesional dalam menjalankan segala aktivitas dakwahnya.

Memang tidak ada perubahan yang mendasar pada tubuh permais dari hasil mubes kemarin. Seperti yang kita ketahui pada mubes sebelumnya, permais melakukan perubahan yang cukup signifikan dengan menghilangkan salsabila dari BSO permais, yang diganti perannya pada divisi keakhwatan pada struktur kepengurusan. Namun pada mubes tahun ini , perubahan hanya terjadi pada Garis-garis besar haluan Kerja Organisasi (GBHKO) yang sebagian besar berubah redaksi.

Ditemui di sela-sela kesibukannya sebagi mentor di kampus SMA Negeri 2 Bandung beberapa hari kemarin, supriatna mengatakan bahwa memang tidak ada perubahan yang signifikan pada kepengurusan permais.

”apa yang dirancang oleh Kang Bayu sudah baik dan memang ideal, hanya saja tinggal action di tataran lapangan yang perlu ditingkatkan..” begitu komentar supri

Beliau pun mengatakan bahwa dirinya akan meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh Bayu, tentunya dengan program-program dan strategi baru yang saat ini sedang dirancang bersama rekan-rekan permais lain

Dari mubes permais kemarin juga ada beberapa hal yang menjadi catatan penting, yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan pada kepengurusan berikutnya, diantaranya ialah masalah eksklusifisme permais. Hal ini terlihat pada pandangan umum yang dilakukan dari berbagai perwakilan keluarga muslim (kamus) angkatan terhadap LPJ yang disampaikan Bayu pada saaat mubes kemarin. Sebagian besar mengungkapkan bahwa kekurangan permais kepengurusan sebelumnya ialah tentang permais yang masih dirasa eksklusif dan belum bisa merangkul stakeholder yang berada di FE baik itu berupa lembaga maupun perorangan. Hal ini juga diakui oleh Bayu sebagi ketua permais sebelumnya, saat dimintai pendapatnya mengenai hal ini. Dalam obrolan singkatnya, beliau mengatakan bahwa hal ini dikarenakan memang selama ini peluang yang dimiliki belum dimaksimalkan untuk menyentuh mahasiswa, walau sebenarnya, pada kpengurusan kali ini pengurusnya sudah cukup berwarna ( tidak homogen),

..ini yang jadi salah satu harapan, semoga bisa menyentuh mahasiswa yang selama ini belum tersentuh nilai islam…” ungkapnya

harapan lain, ungkapnya, permais punya dana usaha mandiri yang permanen, biar tidak terlalu pusing dengan dana. selain itu, dulu punya impian punya PERMAIS SPECIAL FORCES, (ngasal) yang intinya pembentukan anggota yang punya kelebihan yang PERMAIS banget, mulai dari profesionalisme, ilmu keislaman, kekuatann fisik, ilmu pngetahuan, teknologi, organisasi, kepemimpinan, dan team work yang handal. yang jelas bisa jadi andalan ummat ini ke depannya..

”.selain itu ada juga keinginan untuk bisa lebih mengemas content islam yang memang sudah subhanallah luar biasa ini, menjadi mudah diterima dengan kbanggaan menjadi bagian dari islam ini.. bisa bersinergi dalam syiar islam bersama fakultas lain, dan nantinya kita benar-benar bisa melihat FE dengan wajah islam yang indah dan bisa dirasakan oleh ummat juga manfaatnya..”

tutur Bayu

Seperti kita tahu, sebetulnya nilai-nilai inklusifitas sudah menjadi bagian dari visi permais, yaitu Profesional, Amali, Qurani, terbina, Inklusif dan Solid, yang dirangakai menjadi satu kata : PrAQTIS. Tentunya diperlukan gebrakan-gebrakan baru yang harus dilakukan untuk membuat permais lebih dekat dan inklusif dengan yang lain. Strategi-strategi dakwah yang direncanakan dan diimplementasikan dalm bentuk program kerja harus dibuat lebih kreatif dan menarik sehingga bisa mebuat permais lebih dekat di masyarakat FE. Nilai-nilai eksklusifisme ini memang perlu pemahaman yang lebih dari segenap anggota maupun pengurus permais karena terkadang kita sulit mendefinisikan batasan-batasan eksklusifitas atau inklusifitas tersebut. Ini artinya, salah salah satu pemahaman yang perlu ditingkatkan oleh segenap pengurus permais dalam menjalankan segala aktivitas dakwahnya ialah mengenai pemahaman Islam yang komprehensif, juga selain kemampuan berorganisasi yang baik dan profesiaonal. Sehingga, nilai-nilai islam serta karakter-karakter dakwah tetap selalu melekat melalui sarana apa pun yang dibuat pada program permais, se-kreatif apa pun program yang dibuat.

Sebagai contoh ialah pemahaman mengenai fiqih Prioritas. Penulis menyarankan agar temen-temen pengurus permais bisa membaca buku Fiqih Priorotas karangan Yusuf Qardhawi. Bagaimana pun, Dakwah kampus sebagai tempat permais adalah arena yang penuh dengan aktivitas yang dinamis, ditengah-tengah miniatur masyarakat kecil, yaitu masyarakat kampus. Akan ada banyak opsi-opsi yang harus dipilih oleh permais dalam menjalankan roda dakwahnya. Oleh karena itu, penting kiranya kita mengkaji mengenai manajemen prioritas. Kajian mengenai fiqih prioroitas ini insya Allah akan dikaji pada artikel yang berbeda

Mungkin hal ini pula lah yang mendasari Supriatna untuk menjadikan kajian sebagai salah satu program prioritasnya pada kepengurusan permais yang saat ini sedang dirancang. Bahkan kalau tidak salah (silakan dikoreksi), bahwa bidang kajian akan dijadikan dalam satu departemen baru di permais. Kita nantikan saja.. dan Tentunya hal ini diharapkan menjadi salah satu hal yang akan meningkatkan kualitas dari dakwah permais yang diusung oleh orang-orang yang juga berkualitas, sehingga perjalanan roda dakwah islam di FE ini menjadi lebih indah. Seperti apa yang dikatakan supri dalam visi nya sebagai ketua permais :

”Menjadikan Permais sebagai lembaga dakwah yang teladan dan terdepan…”

Insya Allah…

Selamat berjuang untuk sesuatu yang lebih baik…

Allahu Akbar.. !!!!

1 Comment

  • Bismillah!
    Perlu dukungan semua pihak,baik ikhwah yg msh brstatus mahasiswa ataupun alumni.Kami (kami?Lu aja gw ikutan^^) di dlm kpngurusan,insy4JJI akan brupaya membumikan nilai2 keislaman lwt prmais.
    Diantos kntribusi nyata antum.


Leave a Reply